Senin, 24 Desember 2012

LIBRARY 2.0 dan Perkembangannya



2.1              Perpustakaan Elektronik
Sebelum membahas Perpustakaan elektronik, disini akan dibahas pengertian perpustakaan secara umum terlebih dahulu. Menurut Sulistyo-Basuki (1993), Perpustakaan didefinisikan sebagai suatu gedung atau ruangan tempat menyimpan bahan pustaka yang disimpan menurut tata susunan tertentu dan digunakan untuk pembaca. Yang dimaksud bahan pustaka mencakup karya cetak seperti buku, majalah, desertasi dan laporan, dan karya non-cetak atau karya rekam, seperti rekaman audio, video, kaset, piringan hitam, bentuk mikro, seperti mikrofilm dan mikrofis, serta karya bentuk elektronik, seperti disket,  CD-ROM. Definisi ini merupakan gabungan definisi perpustakaan secara konvensional/ tradisional.
Dalam perkembangannya, terjadi perubahan dari perpustakaan biasa ke perpustakaan elektronik. Hal ini ditandai dengan adanya tambahan koleksi elektronik, seperti disket, kaset dan CD-ROM, Perpustakaan Digital, serta Perpustakaan Maya (Virtual Library).

      Perpustakaan Elektronik adalah perpustakaan yang mengoleksi media elektronik analog yang masih memerlukan lokasi fisik seperti, gedung perpustakaan, ruang baca, meja referensi, meja sirkulasi, dan lain sebagainya. 
Kemudian dalam perkembangannya diantara perpustakaan elektronik dan perpustakaan digital ada perpustakaan yang dikenal dengan nama Perpustakaan  hibrida. Perpustakaan hibrida juga masih memerlukan gedung dan lokasi fisik ditambah jaringan Internet, dan lain-lain karena perpustakaan hibrida merupakan perpaduan antara perpustakaan yang berbasis koleksi cetak dan berbasis informasi elektronik (Lasa HS, 2009:266). Perpustakaan digital adalah perpustakaan  dengan atau tanpa lokasi fisik, koleksi digital, ruang dan refernsi maya (Pendit, 2009 : 9). Perpustakaan Maya adalah perpustakaan tanpa lokasi fisik, koleksi seluruhnya digital, ruang dan referensinya bersifat maya. Perpustakaan ini hanya dapat dilihat dari Website, karena lokasi fisiknya mungkin ada, tetapi hanya berupa ruangan yang berisi satu komputer dan seperangkat CD-Room sebagai koleksi pokoknya.
2.2         Web 2.0
Sebelum membahas Library 2.0 atau Perpustakaan 2.0, perlu kita ketahui bahwa istilah Perpustakaan  2.0  berasal dari terjemahan library 2.0 yang berawal dari konsep Web 2.0. Konsep Web 2.0 merupakan generasi kedua dari World Web Wide (www). Web 2.0 atau parcipatory Web yang menggambarkan bagaimana teknologi www dimanfaatkan oleh aplikasi-aplikasi yang berkembang saat ini untuk berkolaborasi dengan para penggunanya dari seluruh penjuru dunia. Aplikasi yang memungkinkan itu adalah blog dan wiki. Dua aplikasi itu digunakan pengguna untuk berkontribusi terhadap isi Website lain sehingga terjalin komunikasi yang interaktif diantara pengguna.
Pada tahun 2004, Tim O’Reilly memprakarsai sebuah seminar dengan menggunakan nama Web 2.0. Menurut Paul Graham (Dalam Sudarsono, 2009), nama 2.0 muncul dari sebuah brainstorming untuk memberi nama konferensi tentang Web yang baru.  Pada sesi pertemuan berikutnya Tim O’Reilly mencoba mendefinisikan ulang Web 2.0. Batasan yang muncul adalah beberapa kriteria sebagai berikut:
2.2.1        Web 2.0 menggunakan jaringan sebagai landasan kerja yang menjangkau semua perlatan terkoneksi.
2.2.2        Penerapan Web 2.0 memanfaatkan keunggulan hakiki landasan kerja tersebut.
2.2.3        Menyediakan piranti lunak yang secara terus menerus diperbaiki karena semakin banyak pengguna yang berpartisipasi dalam upaya itu.
2.2.4        Memakai dan memadukan data dari beragam sumber termasuk dari setiap individu pemakai.
2.2.5        Menyediakan data dan jasa dalam format yang mungkin dipadukan oleh pihak lain.
2.2.6        Menciptakan keunggulan jaringan dengan memakai arsitektur yang cocok untuk partisipasi berbagai pihak.
2.2.7        Melebihi kemampuan Web 1.0 karena diperkaya oleh pengalaman para pengguna.
Kriteria di atas menunjuk pada dua hal yang saling mendukung dan menguatkan, yaitu sisi teknologi dan sisi hubungan manusia dalam bentuk partisipasi. Sisi teknologi diwakili oleh kelompok perangkat seperti Blog, wikis, podcast, RSS, feeds, dan lain - lain. Sedangkan sisi sosial diwakili dengan tebentuknya jejaring sosial (Sudarsono, 2009:3).
2.3   Web 2.0 dalam Membangun Perpustakaan
Miller, Paul (2005),  mengembangkan beberapa issue saat itu seputar konsep Web 2.0 dan artinya, untuk perpustakaan dan organisasi-organisasi terkait. Web 2.0 adalah suatu istilah yang sedang hangat dibicarakan, dan bahkan telah menimbulkan histeri dari suatu Dot.Com pada tahun 1990-an di San Fransisco. Bahkan suatu media yang sangat dihargai, seperti Business week  menjadi terperanjat dengan adanya Web 2.0 tersebut.
            Kemudian Paul (2005) menjelaskan dalam suatu paper, dan sesuatu yang mungkin berkembang dimasa depan, seorang temannya Tim O’Reilly berusaha mendefinisikan konsep Web 2.0, dan memberikan diagram yang sangat berguna untuk menggambarkan beberapa ide yang berhubungan. Diagram tersebut sebagai berikut:



Gambar 2.1
Tim O'Reilly's Web 2.0 'meme map'
Description: figure web 2 












Dari gambar di atas, dapat dilihat bahwa penempatan strategi web sebagai suatu platform (program),  memerlukan penempatan pemakai, dimana anda mengontol data anda sendiri. Kompetensi inti yang diperlukan adalah : layanan, arsitektur partisipasi (pemakai), kemampuan menskala biaya efektif, sumber-sumber data yang ditandai dan tronsformasi data, perangkat lunak diatas semua tingkat dalam suatu sarana  tunggal, memanfaatkan intelegen kolektif. Hal ini semua memerlukan dukungan  suatu sikap dan bukan suatu teknologi, mengikuti dengan diam-diam (the Long Tail), data, sebagai Intel di dalam, perangkat lunak yang semakin baik saat digunakan pemakai, kekayaan pengalaman pemakai, kepercayaan pemakai, dan lain sebagainya. Di samping itu untuk penempatan Web sebagai platform memerlukan kekayaan  pengalaman pemakai menggunakan Gmail, Google dan AJAX, kepercayaan pada  Wikipedi,  partisipasi pada blog, dan lain sebagainya yang ada diatas kotak segi empat.
Tak lama setelah menerbitkan papernya, Reilly (2005) mengunggah suatu difinisi singkat ke dalam blog perusahaannya. 
Menurut Tim O Relly, jaringan Web 2.0, adalah suatu jaringan internet yang dipandang sebagai suatu platform, yang memutar semua jaringan yang terhubung yang tergolong sebagai aplikasi Web 2.0. Aplikasi Web 2.0 adalah aplikasi-aplikasi yang dapat menarik manfaat paling besar dari platform tersebut. Sifat-sifat aplikasi Web 2.0 misalnya:
2.3.1 Aplikasi diluncurkan sebagai layanan (service) yang selalu dimutakhirkan secara berkesinambungan (continually-updated), yang secara otomatis bertambah bagus seiring dengan semakin banyaknya orang yang menggunakannya.
2.3.2 Mengkonsumsi dan mencampurkan data dari berbagai macam sumber (termasuk dari pengguna-pengguna individual), sambil tetap menyediakan data dan layanan mereka sendiri, secara sedemikian rupa sehingga tetap dimungkinkan untuk di-remix oleh pihak lain,
2.3.3    Menciptakan  efek jaringan (network effect) melalui arsitektur kepesertaan (architecture of participation),
2.3.4    Menuju pencapaian yang lebih dari sekedar metafora laman Web seperti dalam Web 1.0, untuk memberikan pengalaman antarmuka pengguna yang meriah (rich user interface).
2.3              Library 2.0
Menurut Arie Nugraha dalam seminar internasional Making You Know (2012), rumusan library 2.0 dapat dituliskan skema sebagai berikut :
 

Web 2.0 + Perpustakaan = Perpustakaan 2.0 / Library 2.0

   Dari beberapa literatur yang dikaji didapatkan hasil bahwa pencetus gagasan Perpustakaan 2.0 (Library 2.0)  adalah Michael E. Casey yang di tulis di dalam Blog-nya.  Disebutkannya bahwa inti dari Perpustakaan 2.0 (Library 2.0) adalah perubahan orientasi kepada pemakai, yaitu suatu model yang menganjurkan perubahan yang beralasan dan terus menerus, dengan mengundang partisipasi pemakai dalam mengkreasikan layanan, baik secara fisik maupun maya sesuai dengan keinginan mereka, yang didukung oleh evaluasi layanan secara konsisten. Layanan tersebut juga berusaha untuk  mendapatkan pemakai baru dan layanan yang lebih baik dan terbaru melalui penawaran  pengembangan kepada pemakai. Setiap komponen berusaha sendiri untuk meningkatkan layanan yang lebih baik kepada pemakai. Dengan mengkombinasikan semua implementasi ini kita dapat mencapai Library 2.0. (Casey, Michael E & Savastinuk Laura C, 2006 ; 18 - 19)
Pengaruh pendekatan yang ditandai dengan prinsip Web 2.0  dan teknologi menawarkan kepada perpustakaan berbagai kesempatan untuk melayani pemakainya dengan lebih baik, dan mencapai diluar dinding perpustakaan dan Website dari institusinya untuk mencapai  keuntungan yang potensial dimana mereka kebetulan mendapatkannya, dan di asosiakan dengan tugas yang kebetulan mereka tangani.
Perpustakaan 2.0 (Library 2.0) dapat merevitalisasi cara berinteraksi antara pemustaka pustakawan. Jantung Perpustakaan 2.0 adalah perubahan yang berpusat pada pemakai (user centered). Perpustakaan 2.0 merupakan model layanan perpustakaan yang mendorong perubahan berkelanjutan yang bermanfaat, dengan mengundang partisipasi pemakai dalam mencipta serta mengevaluasi, baik layanan fisik maupun maya yang mereka kehendaki.
Casey, M.E dan Savastinuk L.C (2006) mengungkapkan Perpustakaan 2.0 juga berupaya mencari pemakai baru dan melayani pemakai yang sudah ada dengan lebih baik. Kemudian ditambahkan Casey bahwa teknologi, meskipun tidak diperlukan sekali, dapat membantu perpustakaan - perpustakaan menciptakan pengendalian pemakai, di lingkungan 2.0. Teknologi 2.0 telah memainkan peranan penting terhadap kemampuan kita untuk tetap menjaga perubahan-perubahan kebutuhan dari pemakai perpustakaan. Perkembangan teknologi dalam beberapa tahun lalu di negara-negara maju telah memungkinkan perpustakaan-perpustakaan membuat layanan baru. Dengan adanya Library 2.0 memberi kemungkinan perpustakaan mengadakan layanan – layanan tambahan, seperti  layanan referens maya, Online Public Access Cataloging (OPAC), media yang dapat di unduh dimana pemakai perpustakaan dapat merasa puas di perpustakaan mereka sendiri. Library 2.0 meningkat dalam hal kemampuan teknologinya, dengan memberikan perpustakaan-perpustakaan kemampuan untuk menawarkan perbaikan, dan kesempatan layanan yang dikendalikan oleh pemakai.
Sementara itu Manees (2006), mendefinisikan bahwa Library 2.0 adalah penerapan teknologi yang didasarkan pada Web multimedia yang interaktif, kolaboratif, pada layanan perpustakaan dan koleksi  yang berdasarkan Web, dan menganjurkan diadaptasi oleh komunitas Ilmu Perpustakaan. Selanjutnya disebutkan bahwa Library 2.0 adalah komunitas virtual yang berdasarkan pemakai. Library 2.0 adalah kaya secara sosial, menjadi space yang menganggap semua orang sederajad. Sementara itu, pustakawan bertindak sebagai fasilitator dan memberikan dukungan, serta menjadi penangung jawab utama terhadap kreasi dan isi Web tersebut.
Menurut Manees (2006) teori Library 2.0 memliliki empat elemen penting, yaitu :
2.3.1        Berorientasi kepada Pemakai
Para pemakai berpartisipaasi pada penciptaan isi dan layanan mereka pandang didalam Web perpustakaan, contohnya OPAC, konsumsi dan penciptaan isinya dinamis, dan oleh karena itu peran pustakawan dan pengguna tidak selalu jelas.
2.3.2        Memberikan Suatu Pengalaman Multimedia.
Baik koleksi maupun isi Library 2.0 berisi komponen-komponen video dan audio. Meskipun hal ini sering tidak disitir sebagai fungsi Library 2.0.
2.3.3        Kaya Masyarakat Pemakai
Keberadaan web tersebut termasuk kehadiran pemakai. Ada cara baik sinkronisasi dan ansinkronisasi bagi pemakai untuk berkomunikasi satu sama lain dan dengan pustakawan.
2.3.4        Bersifat Inovatif secara Komunitas
Hal ini menjadi aspek yang paling penting dari Library 2.0. Perpustakaan ini bersandar pada fondasi perpustakaan sebagai suatu layanan komunitas. Tetapi harus dimengerti bahwa sifat komunitas selalu berubah. Perpustakaan pasti tidak berubah bersama mereka, tetapai harus mengijinkan pemakai untuk merubah perpustakaan. Perpustakaan 2.0 mencari perubahan yang terus menerus dalam segi pelayanannya.
2.4          Jenis-jenis Layanan Perpustakaan  berbasis Library 2.0
Dari beberapa artikel di atas telah diketahui bahwa Library 2.0 adalah suatu komunitas maya yang berorienntasi kepada pemakai. Konsep yang menjadi pondasi kehadiran suatu web perpustakaan dan bagaimana web tersebut harus berevolusi ke dalam suatu kehadiarn multimedia yang membolehkan pemakainya untuk tampil sekaligus, baik dengan perpustakaan maupun pustakawan atau dengan sesama pemakai lainnya menjadi suatu kebutuhan yang harus ada dalam proses pengembangannya.
Ada beberapa aplikasi web 2.0 yang dapat diterapkan di perpustakaan dan dapat di evaluasi tingkat keefektifitasannya. Berikut beberapa contoh Layanan Perpustakaan 2.0 (Manees, 2006) :

2.4.1        Synchronous Messaging

Istilah ini telah dirangkul dengan cepat oleh komunitas perpustakaan. Secara lebih luas dikenal dengan nama Instant Messaging (IM), hal tersebut memberikan waktu yang nyata terhadap komunikasi teks antar individu. Perpustakaan mulai menggunakan layanan tersebut dengan istilah Chat Reference atau Layanan referens untuk ‘ngobrol’ (Chatting), dimana pemakai dapat berkomunikasi dengan pustakawan secara sinkron (pemakai menunggu respon langsung dari pustakawan, sebelum melakukan kegiatan lain), sebanyak yang mereka inginkan seperti dalam layanan referensi dengan tatap muka.

            Beberapa orang mungkin mengira IM adalah teknologi Web 1.0, karena sering membutuhkan unduh perangkat lunak terlebih dahulu, namun dalam kenyataannya IM meruapakan salah satu contoh dari konsep web 2.0. Hal tersebut dikarenakan ada kekonsistenan dengan prinsip Library 2.0,  yaitu memperbolehkan kehadiran pemakai di dalam kehadiran web perpustakaan. Dengan demikian memperbolehkan kolaborasi antara pemustaka dengan perpustakaan, pemustaka dengan pustakawan, dan pemustaka dengan pemustak, menjadikan komunikasi yang hadir bersifat dinamis.

IM juga dipertimbangkan sebagai aplikasi web 2.0 karena menjadi aplikasi yang lebih berdasarkan web. IM sering memperbolehkan co-browsing, sharing file, penangkapan layar (Screen capturing), dan berbagi data stranskrip -transkrip terdahulu (mining of previous transcripts).

 

 

2.4.2        Media Streaming

Media Streaming dari video dan audio adalah aplikasi lain yang mungkin dipertimbangkan sebagai web 1.0, karena hal ini telah mendahului pemikiran web 2.0 dan sudah digunakan secara luas sebelum bermacam-macam teknologi ditemukan. Namun dengan alasan yang sama dengan Synchronous Messaging, Media Streaming dianggap merupakan aplikasi 2.0. Tentunya untuk perpustakaan - perpustakaan yang mulai memaksimalkan penggunaan Media Streaming untuk pemakai mereka.

2.4.3        Blogs dan Wikis.

Blogs dan Wikis pada dasarnya adalah 2.0, dan pengembang-biakannya mempunyai dampak yang sangat besar untuk perpustakaan. Blogs bahkan mungkin benar-benar tonggak sejarah yang lebih besar di dalam penerbitan daripada halaman halaman Web. Blog memungkinkan konsumsi dan produksi yang cepat dari penerbitan berdasarkan Web.

Dampak yang paling nyata dari Blogs untuk perpustakaan adalah bahwa blog merupakan bentuk lain dari publikasi, dan blog-blog tersebut perlu diperlakukan seperti publikasi-publikasi yang lain. Blog-blog tsb kurang pengawasan editorial dan keamanan yang diberikan pada blog tersebut, tetapi beberapa diantaranya adalah produksi yang integral di dalam suatu tubuh pengetahuan, dan ketiadaan dari blog-blog tersebut di dalam koleksi perpustakaan dapat segera menjadi sesuatu yang tidak mungkin. Hal ini tentu saja akan menjadi menyulitkan proses pengembangan koleksi, dan pustakawan akan butuh latihan sejumlah besar keahlian dan kerepotan ketika menambahkan suatu blog ke dalam suatu koleksi ( atau mungkin suatu sistem pengembangan koleksi blog yang ter automasi). Atau mungkin suatu gagasan yang dapat dipercaya dan “otoriter”, untuk pengembangan koleksi, akan butuh untuk dipikirkan kembali dalam kebangkitan inovasi ini.

Wiki utamanya adalah halaman Web yang terbuka, dimana setiap orang yang terdaftar dengan Wiki dapat mempublikasikannya, mengembangkannya dan merubahnya. Sama banyaknya dengan blog, Wiki tidak sama kepercayaannya sebagai sumber-sumber tradisional, dengan keseringan diskusi dari Wikipedia (suatu ensiklopedi online dimana siapapun pemakai yang terdaftar dapat menulis, mengembangkan atau mengedit artikel) di dalam dunia perpustakaan terkenal, tetapi hal ini tentu saja tidak membatasi nilai wiki tersebut, hal tersebut semata-mata merubah kepustakawanan, pengembangan koleksi yang kompleks dan instruksi keberaksaraan informasi (information literacy). Kekurangan ‘peer review’ dan ke-editorialan adalah tantangan untuk pustakawan, tidak pemakai harus menghindari Wiki, tetapi hanya dalam hal mereka harus mengerti dan kritis dalam ketergantungan kepada Wiki. 

3        Jaringan sosial.

Jaringan sosial adalah mungkin yang paling menjanjikan dan mencakup teknologi yang didiskusikan disini. Jaringan sosial memungkinkan pesan, blog, media ‘streaming’ dan ‘tagging’ didiskusikan. MySpace, Facebook, Del.icio.us, Frappr dan Flickr, adalah jaringan kerja yang telah menikmati popularitas besar-besaran dalam Web 2.0. Sementara itu Myspace dan Facebook memungkinkan pemakai untuk mengkomunikasikan (men-‘share’-kan) diri mereka sendiri dengan sesama (profil mereka secara detil tentang kehidupan mereka dan  kepribadian).

Jaringan sosial lain yang patut diperhatikan adalah ‘LibraryThing’ yang memungkinkan pemakai mengkatalog buku mereka sendiri dan melihat apa yang dilakukan pemakai lain men-share-kan buku tsb. Dampak dari situs ini pada bagaimana pustakawan merekomendasikan bacaan kepada pemakai adalah jelas. LibraryThing memungkinkan pemakai, ribuan dari mereka adalah potensial, untuk merekomendasikan buku-buku tsb ke pemakai lain dengan cara sederhana dengan mengamati koleksi-koleksi pemakai lain. Hal tsb memungkinkan mereka mengkomunikasikan secara tidak sinkron , blog dan men-‘tag’ buku-buku mereka.

Hal tsb. tidak memerlukan banyak imaginasi untuk memulai melihat suatu perpustakaan sebagai suatu jaringan sosial itu sendiri. Kenyataannya banyak peran perpustakaan sepanjang sejarah telah menjadi suatu tempat untuk berkumpul orang banyak, berkumpul untuk men-sharingkan identitas, berkomunikasi dan bekerja. Jaringan sosial dapat memungkinkan pustakawan-pustakawan dan pemakai tidak hanya berinteraksi, tetapi untuk sharing dan merubah sumber-sumber secara dinamis di dalam suatu media elektronik. Pemakai dapat menciptakan ‘account’ dengan jaringan perpustakaan, melihat apa yang dikerjakan pemakai lain telah sesuai dengan kebutuhan informasi mereka, saling menyarankan sumber-sumber lain kepada pemakai lain, berdasarkan kesamaan profil, demografi, dan sumber-sumber yang telah diakses sebelumnya, dan menjadi pemilik (host ) dari yang diberikan pemakai. Dan tentu saja, jaringan ini akan memungkinkan pemakai untuk memilih apa-apa yang dapat dipublisitas dan apa yang tidak, suatu gagasan yang dapat membantu mengelakkan masalah-masalah pribadi .

Semua aspek sosial dari Web 2.0, munkin dapat jaringan sosial dan orang-orang yang berhasil sebagian besar dapat mengaca pada perpustakaan tradisional. Jaringan sosial, dalam beberapa pengertian, adalah perpustakaan 2.0. Halaman dari Kehadiran Web perpustakaan di masa depan mungkin sangat tampak seperti suatu antarmuka jaringan sosial (social network interface).

4        Tagging (Penge-Tag-an)

Tagging (me-ngetag/ membubuhi label nama) pada dasarnya memungkinkan pemakai untuk membuat subject  heading, utuk objek yang ada ditangan pemakai. Menurut Shanhi dalam Manees (2006), menjelaskan bahwa tagging utamanya adalah Web 2.0, karena hal tsb memungkinkan pemakai untuk menambah atau merubah tidak hanya isi data, tetapi juga isi yang menjelaskan metadata. Dalam Flikr, pemakai mengetag photo. Dalam koleksi perpustakaan, mereka me-ngetag  (membubuhi label nama) buku.  Dalam Library 2.0 pemakai dapat me-ngetag koleksi perpustakaan dan oleh karenya berpartisipasi dalam proses pengatalogan.

Pe-ngetag-an (Tagging ) membuat penulusuran tambahan menjadi lebih mudah. Contoh yang sering disitir dari Subject Heading Library of Conggress, yang ketika tidak ada orang yang berbahasa Inggris akan menggunakan kata “Cookery” ketika merujuk pada buku masak, ke “cookbooks”, menggambarkan masalah standarisasi klasifikasi. Pe-ngetag-an  akan mengubah kata yang tidak berguna “cookery” kepada kata yang berguna “Cookbooks” dengan segera, dan penelusuran sampingan akan sangat difasilitasi

Tentu saja pe-ngetag-an dan subjek standard satu sama lain tidak akan eksklusif. Katalog Library 2.0 akan memungkinkan pemakai mengikuti subjek yang standard dan subjek yang di-tag pemakai, kapanpun membuat paling bermakna untuk mereka. Pada gilirannya, mereka dapat menambahkan Tag kedalam sumber informasi. Pemakai merespon ke sistem, sistem merespon ke pemakai. Tag ini adalah suatu katalog terbuka, suatu katalog yang dibuat khusus untuk kebutuhan kusus perpustakaan tersebut, katalog yang berorientasi kepada pemakai. Hal tersebut adalah penerapan Ilmu perpustakaan pada hal yang terbaik.

5        RSS Feeds

RSS Feeds dan teknologi lainnya yang semacam memberikan kepada pemakai suatu cara untuk mempersatukan dan mempublikasikan kembali isi dari situs lain atau blogs, mengumpulkan isi dari dari situs lain ke dalam suatu tempat tersendiri, dan tampaknya menyuling (mendistilasi) Web tersebut untuk penggunaan personal mereka. Sindikasi isi seperti itu adalah penerapan lain dari Web 2.0 yang telah mempunyai dampak pada perpustakaan-perpustakaan dan terus mengerjakan seperti hal itu dengan cara yang luar biasa.

Setelah perpustakaan mengkreasikan RSS Feeds untuk pemakai untuk melanggannya, termasuk meng up-date artikel-artikel baru dalam suatu koleksi, layanan baru, dan isi baru dalam pangkalan data langganan, perpustakaan tersebut juga mempublikasikan kembali isi dari situs mereka.

6        Mashups.

Mungkin Mashup  adalah suatu konsep tunggal yang menjadi fondasi dari semua teknologi yang didiskusikan dalam artikel ini. Mashup adalah aplikasi yang dicangkokkan, dimana dua atau lebih layanan digabung ke dalam satu layanan yang benar-benar baru. Sebagai contoh suatu pangkalan data Algoritma yang memungkinnkan pemakai mencari gambar, tidak hanya berdasarkan metadata-nya, tetapi juga data tsb secara fisiknya. Pemakai mencari gambar dengan mensketsa gambar tersebut. Beberapa teknologi didiskusikan di atas adalah Mashup.

Library 2.0 adalah mashup. Mashup tersebut adalah suatu blog hibrida (suatu blog yang dihasilkan dari 2 sistem yang berbeda), wikis, media streaming, pengumpul isi, berita instant, dan jaringan sosial. Library 2.0 mengingatkan pemakai ketika mereka masuk (Log-in) kedalam suatu sistem.  Library 2.0 memperbolehkan pemakai mengedit data OPAC dan metadata, menyimpan tag pemakai, surat menyurat instant dengan pustakawan, memasukkan data wiki dengan pemakai lain, dan mengkatalog semua tentang hal tsb. dengan pemakai lain,  dan pemakai dapat membuat semua bagian dari profil yang dipublisitaskan, pemakai dapat melihat apa yang dimiliki oleh pemakai lain, pinjam meminjamkan, dan diciptakan katalog yang sangat besar yang dikendalikan pemakai serta dicampurkan dengan katalog tradisional.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar